Ada orang merasa cukup dengan apa yang ia miliki, tapi jarang orang merasakan hal tersebut. Kebanyakan dari kita menginginkan sesuatu yang belum dimiliki adapun ketika sudah punya, kita malahan bosan dengan hal tersebut. Misalnya, belum lama saya membeli mobil baru namun dalam waktu singkat saya menginginkan mobil lagi. Apakah itu bersyukur? Bahkan hal tersebut tidak mencerminkan bersyukur? Sudut pandang yang mana yang kamu pilih sob? Sebenarnya banyak sekali hal-hal positif dan negatif yang dapat kita peroleh dari untaian kalimat di atas. Tergantung kita sedang berada diposisi hati sebelah mana? Membingungkan atau sebaliknya, mengerti dan mudah dipahami.
Di dunia ini kesempurnaan itu tidak ada sob, sebaliknya di dunia ini segalanya sudah sempurna. Tergantung pemahaman kita tentang apa yang sedang kita lihat. Misalnya lagi, manusia sudah sempurna, Allah ciptakan dengan organ-organ yang ia butuhkan ketika akan hidup di bumi kela. Adapun jika orang yang tidak memiliki organ tangan di tubuhnya, Allah sudah persiapkan segala kebutuhannya. Ia tinggal menjalankannya saja. Kadang orang kasihan dengan hal tersebut namun sebenarnya kita tidak harus kasihan kepada hal tersebut. Hal yang harus kita pikirkan ialah tentang diri kita sendiri, apakah kita kasihan kepada diri kita? Sedangkan dalam diri kita terdapat banyak unsur mulai dari Ruhani, Jasmani, dan lain sebagainya. Apakah kamu pernah mencoba melihat bagian hatimu yang terdalam? Jika belum lihat dulu ke dalam dirimu.
Gimana apakah sudah melihat? Apakah kamu masih sedih dengan kehidupan yang kamu jalani saat ini? Jika sedih maka bersyukurlah karena kamu akan dinaikan harkat dan derajatmu di dunia ini. Bukan tentang orang lain melainkan tentang dirimu sendiri. Kesempurnaan itu hanya bagi Allah sedangkan jika kita melihat kesempurnaan di bumi ini, maka teramat dekat dirimu dengan sang pencipta. Segala sesuatunya sudah memiliki fungsinya masing-masing. Seperti malaikat yang Allah ciptakan untuk mencatat segala amal ibadah yang kita lakukan di bumi maka kerjaannya hanya untuk mencatat hal tersebut. Seperti halnya hewan tidak memiliki akal sedangkan hatinya ia gunakan untuk menjalani kehidupan ini.
Setetes Embun Menghidupkan kita
Apakah air bisa menjadi sempurna jika dipadukan dengan satu sendok kopi dan sedikit gula dalam cangkir yang akan kita sajikan kepada orang yang tak memiliki rasa di lidahnya? Hambar jelas hambar. Beda hal jika kita hidangkan kepada penikmat kopi, sudah pasti sempurna. Lain hal jika setetes embun yang jatuh dari daun, menembus tanah kehidupan, melekat pada akar pohon bersemayam dalam epidermis kemudian masuk ke jaringan yang lebih dalam lagi untuk memberikan rasa pada pohon sehingga ia mampu bertahan dalam panas, dan berkembang dalam kemarau. Kokoh dan kuat bermanfaat meskipun hanya satu tetesan saja. Bagimana jika banyak? Jelas kesempurnaannya. Apakah kita masih belum melihat hal tersebut?
Jangan pernah takut untuk bermimpi, takutlah jika hidup tidak memiliki mimpi. Manusia hidup dengan adanya harapan di dalam dadanya. Sehingga ia yakin akan hari esok menjadi pribadi yang lebih sukses lagi. Apakah ada orang yang tidak memiliki harapan? Jelas banyak. Jika banyak kenapa mereka tidak memiliki harapan? Jelas hatinya lah yang terkunci oleh keyakinan akan adanya Tuhan. Mereka berdoa sedangkan mereka tidak yakin akan doanya tersebut. Mereka percaya namun masih meragukan kepercayaannya tersebut. Sehingga tidak mampu melihat sari daripada rasa bahagia, alhasil merasa kurang dan tak bersyukur.
Demikian tulisan ini saya buat, semoga bermanfaat untuk kita semua.. Saran dan kritikan teramat sangat dibutuhkan demi kelancaran pengembangan tulisan..
Penulis : Muhamad Padhil Sumarwan

0 Comments